Akulturasi budaya merupakan suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing.
- Dalam kajian keilmuan, Persib memiliki banyak sekali nilai sosial yang dapat diteliti dan dipelajari. Ini karena persib bagi para bobotoh tidak hanya berposisi sebagai tim idola, tetapi juga sudah membentuk suatu kultur tersendiri yang besar dan mengakar.
- Dalam cara pandang seorang sosiolog atau pengamat cultural studies pun otomatis Persib memberikan ruang yang cukup besar untuk dipelajari dan diteliti. Salah satunya mengenai perkembangan suporternya yang jumlahnya ratusan ribu, terbentang di seluruh penjuru dunia dengan latar belakang sosial budaya yang sangat beragam.
Kultur casual sendiri hadir dari perkembangan budaya inggris pada akhir tahun 1950-an hingga awal 1960-an. kultur yang memang lahir dari musik dan fashion anak muda inggris pada saat itu. Namun yang menarik adalah adanya akulturasi budaya yang terjadi akibat pengkonsumsian kultur tersebut di kalangan bobotoh. Akulturasi sendiri memiliki banyak definisi, dari berbagai definisi tersebut, yang saya tangkap dan coba definisikan sendiri, akulturasi adalah sebuah proses yang terjadi karena adanya keterbukaan, kontak langsung atau tidak langsung, sebuah kelompok/individu pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing yang dilakukan melalui perantara berbagai macam media, baik konvensional atau modern.
Dengan fenomena besar yang terjadi ini, kemudian adaptasi dengan kultur sepakbola inggris pun seakan ada yang menjembatani, Siapa yang tidak mengenal Oasis sebagai pendukung sejati manchaster city, atau Stone Roses, band favorite David Beckham yang juga dikenal sebagai band pendukung Manchester United. Celah-celah seperti inilah yang kemudian mendasari pemikiran para anak muda Bandung untuk mengadaptasi dan menyesuaikan gaya hidup yang sama dengan anak muda Inggris.
Di Bandung bisa dibilang semua orang adalah bobotoh Persib, dengan cap seperti itu otomatis pelaku dan pecinta musik inggris tersebut secara sengaja ataupun tidak sengaja mengakulturasikan lifestyle yang mereka peroleh ke lingkup perbobotohan Persib. Gaya berpakaian yang bernuansa kasual pun menjadi hal yang lumrah terlihat di stadion. Ini kemudian menular pada individu bobotoh-bobotoh lain yang tertarik dan mencoba mengetahui dan mengenai budaya hasil asimilasi tersebut lebih lanjut. Tercatat beberapa individu/kelompok memulai budaya kasual di tribun stadion terlihat dari beberapa tahun kebelakang.
Jadi sebetulnya, satu kultur baru yang masuk ke suatu kelompok/individu utamanya hadir karena adanya kecanggihan teknologi dan media yang maju yang mengajarkan seseorang untuk berpikir lebih ilmiah dan objektif, dilengkapi dengan sikap si viewers yang mudah menerima hal-hal baru dan rasa toleran terhadap perubahan. Berbagai contoh dapat diberikan untuk membuktikan bahwa kebudayaan yang ada sekarang merupakan banyak yang hadir dari proses akulturasi, misalnya karya sastra, arsitektur rumah ibadah, tarian daerah, wayang, alat musik tradisional, dan masih banyak lainnya.
Sebagai manusia ini adalah “resiko” yang harus dihadapi, akulturasi bukanlah musuh yang mengenyampingkan budaya lokal, akulturasi hadir untuk menegaskan bahwa kita merupakan bagian dari masyarakat dunia. Tetapi dibalik berbagai macam fenomena kasual yang terjadi ini, kita tetaplah orang timur yang memiliki tanggung jawab sebagai warga bangsa yang mencintai budaya leluhurnya, Act Local – Think Global! Viva La Persib!


.jpg)
